Paradigma Perubahan Skala
Memulai proyek dengan arsitektur monolitik sangat disarankan demi kecepatan go-to-market. Namun seiring bertumbuhnya organisasi (jumlah tim) dan basis kode (codebase), aplikasi monolitik raksasa menjadi lambat dikembangkan, rentan regresi, dan sangat susah di-scale pada komponen tertentu.
Mengapa Transisi Begitu Sulit?
Pindah ke microservices bukanlah proyek IT biasa, ini adalah restrukturisasi total. Kesalahan paling umum adalah memecah microservices terlalu kecil terlalu cepat (disebut distributed monolith), di mana layanan justru terikat erat (tightly coupled) dan saling memblokir melalui synchronous HTTP call.
Strategi Strangler Fig Pattern
Untuk meminimalisir risiko migrasi "Big Bang", gunakan pola Strangler Fig. Pada metode ini, arsitektur monolitik tidak diganti dalam semalam. Alih-alih, fitur-fitur baru dikembangkan di layanan (service) terpisah.
Secara bertahap, fungsi-fungsi yang ada di monolit ditarik ke dalam microservices baru satu per satu, sambil me-route trafik melalui API Gateway. Hingga pada akhirnya, sistem monolit lama dapat dinonaktifkan sepenuhnya.
Manajemen Data Terdistribusi
Tantangan paling menyulitkan adalah memecah database. Microservices menganut asas Database per Service. Ini menghilangkan kemampuan Join query sederhana antartabel. Sebagai gantinya, Anda harus mengatur komunikasi data menggunakan event sourcing atau pola CQRS (Command Query Responsibility Segregation).
Membangun Ketahanan (Resiliency)
Di jaringan terdistribusi, kegagalan adalah hal pasti. Satu layanan yang mati tidak boleh meruntuhkan seluruh sistem. Developer wajib mengimplementasikan pola arsitektur pertahanan, seperti Circuit Breaker, Retries, dan Fallbacks untuk menjaga sistem tetap gracefully degraded saat terjadi gangguan.